Jakarta -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan penguatan ekonomi kerakyatan sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan bisnis. Di tengah perkembangan usaha perbankan yang semakin luas dan dinamis, segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap ditempatkan sebagai core business sekaligus fondasi utama dalam menopang pertumbuhan perseroan.
Komitmen tersebut tercermin dari kinerja pembiayaan hingga akhir Triwulan II 2026. Dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 yang berlangsung di Jakarta, Senin (31/8), BRI mencatat portofolio kredit UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 8,6 persen secara year-on-year (YoY), menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga peran strategisnya dalam menyediakan akses pembiayaan bagi sektor usaha yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Besarnya porsi kredit UMKM tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ekspansi BRI ke berbagai segmen bisnis tidak menggeser perhatian perseroan terhadap sektor usaha rakyat. UMKM tetap menjadi bagian dominan dalam portofolio kredit BRI. Strategi tersebut memperkuat posisi perseroan sebagai bank yang memiliki pengalaman panjang dalam melayani kebutuhan pembiayaan masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil yang terus berupaya mengembangkan bisnisnya.
Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan, dukungan pembiayaan kepada UMKM tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan modal usaha. Menurutnya, BRI juga mendorong agar pelaku UMKM memiliki kemampuan untuk berkembang, meningkatkan kapasitas bisnis, serta naik kelas. Karena itu, pembiayaan berjalan beriringan dengan berbagai program pemberdayaan yang dilakukan secara menyeluruh.
“Dukungan tersebut dibangun melalui pendekatan pemberdayaan secara end-to-end, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha individu. Melalui Desa BRILiaN, BRI telah memberdayakan lebih dari 5.700 desa dengan fokus mengoptimalkan potensi ekonomi lokal sekaligus memperkuat kapasitas dan kelembagaan desa,” ujar Aquarius. Program tersebut menjadi salah satu pendekatan BRI dalam menggali potensi ekonomi yang berasal dari masyarakat dan lingkungan desa.
Tidak berhenti pada tingkat desa, BRI juga memperluas pemberdayaan melalui komunitas usaha. Program Klasterku Hidupku kini telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. Sementara itu, melalui platform digital LinkUMKM, jangkauan pendampingan telah diperluas hingga sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Kehadiran ekosistem tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperoleh berbagai dukungan yang dapat membantu pengembangan kapasitas dan usaha mereka.
Pendampingan secara langsung juga dilakukan melalui Rumah BUMN yang menjadi salah satu wadah pengembangan UMKM. Hingga Juni 2026, sekitar 596 ribu pelaku UMKM telah bergabung dalam ekosistem tersebut. Melalui berbagai kanal pemberdayaan itu, BRI berupaya membangun ekosistem yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran kredit, tetapi juga membantu pelaku usaha memperoleh pendampingan dan akses terhadap peluang pengembangan bisnis yang lebih luas.
Berbagai langkah tersebut memperlihatkan upaya BRI menjalankan fungsi yang lebih luas sebagai financial intermediary sekaligus enabler pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan siklus pertumbuhan bagi UMKM, mulai dari penguatan kapasitas usaha, peningkatan skala bisnis, hingga integrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih luas. “Pada akhirnya, pertumbuhan usaha tersebut diharapkan turut mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pelaku UMKM,” kata Aquarius. Sejalan dengan itu, kinerja BRI Group hingga Triwulan II 2026 juga tetap solid, dengan total aset mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen YoY. Penyaluran kredit meningkat 16,2 persen YoY menjadi Rp1.646 triliun, sedangkan laba bersih konsolidasian tercatat Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen YoY.
Sumber: Bank Rakyat Indonesia
Editor: Zulfandi Kusnomo







Tidak ada komentar:
Posting Komentar